Welcome Guest
Saturday
2017-10-21
4:47 PM

Beranda Respati Wikantiyoso

Site menu
Login form



Your Visitors Number:


Sugar ticket oz

Since December 1st 2009

Search
8
Calendar
«  October 2009  »
SuMoTuWeThFrSa
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Entries archive
Our poll
Rate my site
Total of answers: 35
Site friends
  • Create your own site
  • Statistics

    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0
    Local Wisdom

    Create Your Badge


    BARU TERBIT


    BUKU BARU: LOCAL WISDOM
    Baca Kata Pengantar

    'City is not a Problem, City is Sollution'(Jaime Lerner)







    Web Badan Pengembangan dan Penaminan Mutu Unmer
    Main » 2009 » October » 31 » PRAWACANA, Local Wisdom sebuah harapan...
    5:54 AM
    PRAWACANA, Local Wisdom sebuah harapan...

    Pada hakekatnya lingkungan binaan adalah suatu bentuk pengelolan, pengolahan (melalui planning dan design) yang dilakukan oleh manusia, atau sekelompok manusia sebagai suatu entitas budaya tertentu untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya. Beberapa ahli kebudayaan, sosial, perencana maupun perancang arsitektur pada hakekatnya sepakat bahwa dari beberapa bentuk lingkungan binaan sebagai suatu perujudan fisik suatu budaya komunitas tertentu sarat akan nilai – nilai (sosio-kultural maupun ekologis) yang dapat dijadikan best practices dalam perancangan lingkungan binaan. Penggalian lesson learnt (konsepsi, aplikasi, implementasi dan kebijakan) atas wujud rupa lingkungan binaan baik (tradisional maupun modern) memerlukan suatu "kearifan” tersendiri dalam pemahamannya

    Lingkungan binaan sebagai suatu kesatuan entitas budaya yang didalamnya terkandung unsur – unsur manusia, alam, serta perwujudan budaya fisik (termasuk arsitektur), maka pemaknaannya harus harus mengikuti kompleksitas unsur – unsurnya. Pemahaman bahasa alam, manusia dan arsitektur sebagai salah satu upaya untuk menggali potensi atas pengetahuan lokal (indegenous knowledge), sebagai wujud kearifan lokal yang telah teruji mampu menjaga keseimbangan kehidupan komunitasnya secara harmoni, lestari dan berkelanjutan. Sebagai suatu gagasan (konsep) dengan berbagai wujud implementasi spatialnya, kearifan lokal suatu komunitas akan terus tumbuh berkembang dalam kesadaran masyarakatnya. Sehingga perujudan budaya fisiknya (arsitektur misalnya) semestinya bukan sesuatu yang harus stagnan atau memusakan arsitektur (meninjam istilahnya pak Josef). Kalaupun faktanya arsitektur tradisional mampu eksis dalam kekinian, hal ini bisa terjadi karena perwujudan kearifan lokal telah mentradisi dan berlangsung secara turun menurun sehingga mampu secara konsisten dijaga dan menjadi suatu identitas masyarakat. Dengan demikian penggalian konsepsi kearifan lokal tidak cukup hanya dengan melihat budaya fisiknya secara massif, tetapi harus dipahami latar belakang sosial budaya komunitasnya sebagai suatu kesatuan hidup. Proses pemahaman seperti ini akan mampu melihat konteks local wisdom secara holistic, sehingga potensi lokalitas tersebut dapat dipahami sebagai suatu konsepsi lokal yang bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh masyarakat (Antariksa, 2009).

    Pemahaman budaya fisik secara steril memang akan memunculkan suatu kesan upaya untuk mem-pusaka-kan (Prijotomo, 2009) suatu warisan. Akan lebih bijaksana apabila kita mampu menggali pengetahuan lokal (indigenous knowlwdge), sehingga esensi desain akan lebih membuka peluang terhadap upaya – upaya inovasi desain yang lebih kaya. Dalam hal ini diperlukan suatu perubahan mind set atau cara pandang dalam penggalian potensi kearifan lokal dalam perencanan dan perancangan lingkungan binaan. Sebenarnya ruhnya menjadi jelas bahwa penggalian potensi kekanyaan kearifan lokal sebagai "produk” budaya nusantara sebenarnya merupakan "proses” pemahaman bahwa dalam perencanaan dan perancangan lingkungan binaan harus bersifat "arif” dan "bijaksana” dalam melakukan "intervensi” fisik terhadap suatu entitas komunitas tertentu.

    Kajian-kajian tentang potensi kearifan lokal baik dari sisi keberagaman produk budaya, maupun dari sisi keberagaman substansi kita sepakat bahwa kearifan lokal merupakan suatu potensi yang harus dipertahankan dan dikembangkan dalam konteks kekinian. Perubahan paradigma perencanaan dan perancangan lingkungan "binaan” (kota), sebenarnya memberikan peluang kepada terakomodasinya upaya – upaya untuk mengimplementasikan konsepsi local wisdom, indigenous knowledge, maupun potensi local genius, sebagai upaya untuk mengangkat potensi lokalitas kawasan. Perubahan paradigm perencanaan dan perncangan kota mulai dari pendekatan theosentris sampai kepada pendekatan fenomenologis, membuka peluang untuk terakomodasikannya potensi lokal melalui pendekatan partispatori dalam perencanaan daN perancangan kota. Dengan demikian pendekatan partisipatif (community based development), merupakan salah satu strategi yang dapat menjembatani kepentingan – kepentingan pembangunan yang berparadigma pertumbuhan ekonomi (economic based), dengan keberlanjutan pembangunan (socio-ecological based). Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Appleyard (1982:122), bahwa ada tiga orientasi dalam perancangan kota yakni (1) development orientations, (2) conservation orientations, dan (3) community orientations.  Orientasi perancangan kota tersebut merupakan dasar kebijaksanaan yang harus diperhatikan dalam perancangan kota. Pendekatan yang realistis untuk perancangan kota harus memasukkan ketiga orientasi tersebut, dan mencari keseimbangan antara ketiga orientasi tersebut di atas (Hamid Shirvani, 1985). Perencanaan dan perancangan kota sebagai upaya penataan ruang diharapkan dapat mendorong pengembangan wilayah dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat (city as engine of economic growth) yang berkeadilan sosial (social justice) dalam lingkungan hidup yang lestari (environmentaly sound) dan berkesinambungan (sustainability sound).
     
    Catatan:
    Prawacana ini merupakan abstraksi awal dari buku yang saya buat (sebagai editor) bersama 11 kontributor lainnya sebagai buah pemikiran dan sumbangsih untuk melakukan upaya perencanaan dan perancangan kota yang bijak, dengan memahami dan memperhatikan local wisdom sebagai sumber inspirasi dalam mewujudkan idealisme rancangan yang sesuai dengan konteks keseluruhan dan keseluruhan konteks perencanaan dan perancangan.
    Views: 550 | Added by: rwickan | Rating: 0.0/0
    Bagikan